Sabtu, 14 November 2009

Menuju KKN


Hore,,UTS ku akhirnya selesai juga. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan semoga saja hasilnya sesuai keinginan, IP 4,00..gubrakkkkkk,mission ini imposible..bukannya pesimis, tapi emank gag mungkin banget.

Setelah UTS ini selesai, aku segera daftar KKN (kuliah kerja nyata) berhubung semester tujuh aku harus udah waktunya menempuh mata kuliah berbobot 4 sks ini. Syarat-syaratnya sich gampang:
-transkrip nilai (ketahuan dech nilai E ku ada brp)
-kwitansi pembayaran (cuma 300 rb kok, pas)
-formulir pendaftaran (syarat utama pastinya, tp kok nomor tiga yah urutannya)
-2 lembar foto 3x4 hitam putih (terpaksa harus copot kaca mata neh)
Syarat-syarat udah aku penuhi, sekarang giliranku mengejar para artis(???), dosen ding, untuk minta tanda tangannya di formku. Setelah bolak balik naik-turun lantai 1 dan 6, semua tanda tangan udah aq dapet. mulai dari dosen wali sampai PD (pembantu dekan)III. sekarang saatnya ngumpulin dah.
Aku gag milih ditempatkan dimana ntar KKNnya, dimanapun itu aku sich ok-ok aja, yang penting aku bisa kkn. Pihak kampus juga membuka rekruitment KKN ke Padang. pingin sich ikut ke Padang, berhubung modalku nggak ada, jadi ya terpaksa di Malang aja dech. Semua urusan KKN selesai, tinggal balik ke Kos langsung molor..
*......*
Panda, teman kosku, dia memilih jalur yang ke Padang. karena kata dia, kalau masalah biaya sama kok dengan yang di malang, cuma bedanya mungkin agak berat di ongkos transportnya aja. Tapi secara keseluruhan, hampir sma dengan kkn biasa kok total biaya KKN nya.
ehm...setelah pikir-pikir agak lama, aku akhirnya ikutan aja ke Padang. Selain aku ingin bantu-bantu disana, aku kan jiwa-jiwa adventure, jadi ya sekalian bertualang..hehehe. bolang si bolang, bocah petualang...
"Ntar juga ada si ayu lho", aku sedikit kaget bukan kepalang ketika mendengar nama asli IJO ku disebut. Ternyata ijo juga ngambil yang ke Padang. Wah, mesti gimana nih?? Inginku sich pas KKN ntar aq nggak kebayang dulu ama IJO, nah kalau gini gimana bisa ngelupain wong tujuan dan tempatnya aja jadi satu... Nggak tahu lah, mending tidur..
*..esoknya...*
Pagi jam 8an aku berangkat ke kampus untuk ngurus lagi KKN ke Padangku. Tapi dalam perjalanan dari kos ke kampus, aku masih menimbang, "berangkat ke Padang nggak yah?"
samapi di depan kantor Administrasi KKN, aku masih bimbang.
"Mas..mas..halooooo.." teriak mbak admin ngagetin lamunan.
"mau ngurus apa ngelamun mas disini", tambahnya agak cengar-cengir
"ehm...apa ya mbak?" jawabku membingunggkan.
"heloh, la sampeyan kesini itu mau ngurus apa tho?" tanya si mbak ini, sambil agak melotot..
"he..hehe..aku juga lupa nih mbak, bentar yah mbak, saya mau ke belakang dulu, kebelet" langsung ngeloyor menuju ke toilet.
dalam toilet,sambil cuma-cuma (cuci muka) aku bertanya di depan cermin.. "kok wajahku item kayak gini yah",,hoi....bukan itu yang aku tanyain goblokkk!!! ini lho yang bener "kaca-kaca, aku berangkat nggak nih ke Padang? kalau berangkat, jelas aku nggak bisa konsen karena ada ijo. tapi kalau nggak ke Padang, aku nggak bisa bertualang donk, nggak bisa liat ijo juga tentunya. aku mesti gimana nih? bantu donk!!!!!"
semalam aku juga sempat konsul sama QieQiehara, sohibku, dia sich bilang "kalau emank niatnya ke padang berangkat aja gus" (dia kalau panggil aku Gus Tur), "nggak usah mikirin ijo, biarin dech ijo mau gimana yang jelas sampeyan pinginnya bantu saudara-saudara di padang."
Aku mikir lagi neh, dasar otak celeron, beli core 2 duo kenapa kek..
Ehmmm,,setelah menimbang-nimbang,, Aku mengambil jalan pintas.. PULANG. Biarin aja dah ntar aku ditempatin dimana, yang penting Ikhlas...
Tauk ach...Pusing..
ehm..ehm..
*"ngemeng-ngemeng, nih foto kok gag nyambung yah?"*


Lanjut Membaca......

Rabu, 11 November 2009

Hypodermic Needle Theory


Sejarah dan latar belakang

Suatu konsep penting untuk memahami cara kerja komunikasi massa dengan konsep “penjaga gawang” (gatekeeper). Seorang gatekeeper adalah orang yang memilih, mengubah, dan menolak pesan dan dapat mempengaruhi aliran informasi kepada seseorang ataupun sekelompok. Konsep ini sangat relevan untuk komunikasi massa.
Media massa memiliki kemampuan dalam mempengaruhi perilaku dan sifat seseorang. Pada jaman perang, penguasa menjadikan media massa sebagai alat propaganda untuk menakuti musuh dan menciptakan loyalitas kepada rakyat untuk mendukung kebijakan penguasa tersebut. Model komunikasi massa yang berlaku pada saat itu adalah model linear, yaitu komunikator menyebarluaskan pesan melalui media massa, yang ditujukan pada khalayak.

Pada sisi lain masyarakat membutuhkan informasi dari media massa, termasuk juga informasi komersial. Terjadilah lingkaran simbiosis mutualisma. Pada fase ini, media massa bukan lagi barang langka. Dengan begitu masyarakat sebagai khalayak bisa dengan mudah menenttukan pilihan darimana sumber sebuah informasi yang di butuhkan.
Setiap terjadinya perkembangan media selalu melahirkan konsep atau theory baru dalam ilmu komunikasi. Kemampuan media dalam menghubungkan individu komunikasi dijadikan acuan dalam membentuk suatu teori dan konsep baru dalam ilmu komunikasi. “Dalam membangun theory melalui komunikasi bermedia, tidak saja menghasilkan dan berupa statement-statement saja melainkan juga menggunakan model-model. Meskipun model-model tersebut tidak menguraikan deskripsi, prediksi dan eksplanasi tujuan area fokus pengamatan, tetapi sebuah model menyediakan hubungan antara komponen dalam proses komunikasi dan menerangkan bagaimana komponen tersebut beroperasi” (Mulyana, 2005, 208).
Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen danmudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang.
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai effek komunikasi massa yang oleh para teoritis komunikasi tahun 1970 an dinamakan pula hypodermic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950 an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”. Wilbur Schramm pada tahun 1950 an itu mengatakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Tetapi pada tahun 1970 an Scrhamm meminta pada khalayak peminatnya agar teori peluru komunikasi itu tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Model magig bullet theory atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori ini tidak jauh berbeda dengan model SOR, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang kuat tehadap komunikan.

Gambar : Model jarum hipodermik




Sumber : http//jurnalkomunikasi.com

INTI TEORI JARUM SUNTIK

Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Dan ini merupakan teori media massa pertama yang ada. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle ( teori jarum suntik ), Bullet Theory ( teori peluru ) transmition belt theory ( teori sabuk transmisi ). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna , yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.

Dari beberapa sumber teori ini bermakna :
  • Memprediksikan dampak pesan pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada semua audience ( Severin, Werner J.2005: 314

  • .
  • Disini dapat dimaknai bahwa peran media massa di waktunya ( sekitar tahun 1930an ) sangat kuat sehingga audience benar mengikuti apa yang ada dalam media massa.
    Selain itu teori ini juga di maknai dalam teori peluru karena apa yang di sampaikan oleh media langsung sampai terhadap audience. ( Nurudin . 2007 : 165 )

  • .
  • Kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya. ( http//jurnalkomunikasi.com )
  • .
    Dari sini kita ketahui bahwa teori peluru adalah :
    Sebuah teori media yang memiliki dampak yang kuat terhadap audiencenya sehingga tak jarang menimbulkan sebuah budaya baru dan penyaampaiannya secara langsung dari komunikator yakni media kepada komunikan ( audience ).
    beberapa hal yang juga ada dan menjadi bagian yang sangat penting ada dalam teori ini antara lain :
  • Media : dalam hal ini berperan sebagai komunikator, dan komunikator di sini sifatnya adalah melembaga dan bukan perorangan

  • .
  • Pesan : disni pesan adalah isi atau hal yang disampakan oleh media tersebut

  • .
  • Audience : audience berfungsi sebagai komunikan yang menerima pesan dari komunikator
  • .
    Komunikator yakni media juga memiliki kriteria yang ada :
  • kredibilitas media tersebut

  • .
  • daya tarik dari media tersebut

  • .
  • kekuasaan media
  • .
    Pesan yang di sampaikaan juga memiliki beberapa unsur :
  • struktur pesan tersebut

  • .
  • gaya dari pesan tersebut

  • .
  • appeals dari pesan tersebut.
  • .
    Dan selain itu sebagai komunikan, ada beberapa perubahan atau efek yang di harapkan diantaranya :
  • perubahan afeksi dari komunikan

  • ,
  • perubahan behaviour dan

  • .
  • perubahan kognisi

  • Jadi disini media benar mempunyai kekuatan yang sangat kuat untuk mempengaruhi audience.

    TERAPAN TEORI TERHADAP MASYARAKAT
    Masyarakat bukanlah atom- atom yang mengalami alienasi, melainkan agen-agen yang akan menunjukkan kemampuan subyektivitasnya dalam menanggapi pesan-pesan media. Masyarakat merupakan pihak yang dapat bertindak aktif untuk membaca dan memaknai setiap pesan media yang melintas dan menghunjam benak kesadarannya. Masyarakat mampu menunjukkan kelihaiannya dalam menegosiasikan pesan-pesan media. Sampai pada titik yang sulit diramalkan kepastiannya, masyarakat pun akan melakukan oposisi atau perlawanan terhadap pesan-pesan media itu sendiri. Selain dipertimbangkan, pesan-pesan media akan mendapatkan subversi tanpa henti.
    Contoh yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah, pada iklan air mineral yang bermerek Aqua. Dimana pada saat produk air mineral ini dipublikasikan, secara langsung bisa mempengaruhi asumsi khalayak bahwasanya air mineral itu adalah aqua. Sehingga sampai saat ini aqua sudah terdoktrin di ingatan khalayak. Walaupun sudah banyak merek-merek air mineral yang bermunculan.


    Kelemahan dan kekuatan theory hypodermic needle theory
    Pada dasarnya setiap theory memmpunyai kekuatan dan juga kelemahan. Dan tentunya beberapa teori tersebut hanya bisa berkembang di masanya dan juga mengalami penyempurnaan seperti teori ini yang juga terus mengalami perkembangan.
    Kekuatan teori jarum suntik :
  • media memiliki peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi aveksi, kognisi dan behaviour dari audiencenya.

  • .
  • Pemerintah dalam hal ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi ( negara otoriter )

  • .
  • Audience dapat lebih mudah di pengaruhi

  • .
  • Pesanya lebih mudah dipahami
  • .
    Sedikit kontrol karena masyarakat masih dalam kondisi homogen.
    Kelemahan teori jarum suntik :
  • keberadaan masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini
    tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat

  • .
  • Meningkatnya jumlah media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya

  • .
  • Adanya peran kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan dari media tersebut
  • .

    KESIMPULAN

    Salah satu teori komunikasi massa dalam media adalah hypodermic theory atau biasa yang disebut dengan teori jarum suntik. Artinya media massa sangat mempunyai kekuatan penuh dalam menyampaikan informasi. Apa pun pesan yang disiarkan oleh media bisa dengan sendirinya dapat mempengaruhi khalayaknya. Teori ini menyatakan bahwa efek-efek merupakan reaksi spesifik terhadap stimuli yang spesifik pula. Jika seseorang menerapkan teori ini dapat mengharapkan dan memprediksikan hubungan yang dekat antara pesan media dan reaksi khalayak.
    Untuk mengkaji pengaruh pesan pada khalayak, diperlukan lebih banyak fariabel, antara lain jenis informasi yang diikuti dari media, frekuensi dan intensitas mengikuti informasi tersebut, dan juga variabel-variabel internal kahalayak sendiri seperti, tingkat pendidikan dan wawasan, jenis kelamin, tingkat usia, dan kelompok sosial lainnya.
    Teori ini, sebagaimana diuraikan Denis McQuail dan Sven Windahl (dalam Communication Models: For the Study of Mass Communications, 1981: 42) mengandaikan keterlibatan tiga elemen, yakni (1) stimulus atau rangsangan dalam wujud pesan- pesan atau informasi; (2) organisme yang tidak lain merupakan khalayak yang berkedudukan sebagai penerima pesan; dan (3) respons yang merupakan efek yang dipastikan muncul sebagaimana yang dikehendaki oleh pemberi pesan.
    Ringkasnya adalah khalayak yang diberlakukan layaknya organisme biologis akan menyajikan tanggapan yang pasti sesuai dengan rangsangan yang disemburkan oleh sumber yang memberikan informasi. Jalinan stimulus- organisme-respons (S-O-R) pun dengan sendirinya akan tertata dengan rapi.




    Oleh;
    Widia Astutik ( 05220194 )
    Gagah Adi .N. ( 06220123 )
    Vita Setya .C. ( 06220224 )
    Prahatma Dyan Nugroho ( 06220252 )
    Bayu Kristianto ( 06220265 )
    Yanuar Catur .P. ( 06220286 )
    Annisa Nahdya Safitri ( 06220324 )


    DAFTAR PUSTAKA

    Bland Michael, dkk. 2001. Hubungan Media Yang Efektif. Jakarta : ERLANGGA
    J. Severin dan Tankard. 2008. Teori Komunikasi. Jakarta : Kencana: Media
    Pressindo.
    Mulyana Deddy. 2005. Konteks –Konteks Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
    Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Rajawali Pers.
    _______ . 2004. Komunikasi Massa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.



    Lanjut Membaca......

    Kamis, 05 November 2009

    Kucing Uts Putus


    Wadeaw, beberapa minggu terakhir ini kok media massa kita semakin heboh yah, apalagi kalau bukan berita terkait dengan KPK..kalau dulu sich versi cicak dan buaya, tapi kalau sekarang aku nggak tahu lagi istilah apa yang di pakai. Kucing-kucingan mungkin yah..hehehhe. Yang ngaku kucing, jangan tersinggung yah, maap dech

    Nah, pas tanggal 5 pagi ini, berita di tv, koran, portal dan apalah namanya, masih mengangkat headline seputar rekaman yang diputar pada sidang tanggal 3 kemaren. Sekarang, tadi ding, si Anggodo (saksi pelapor) maen kucing-kucingan sama wartawan (kabar terkini tv one). Anggodo ini keluar dari mabes lewat pintu belakang kantor itu. Dia kabur dengan mobil, kenceng pula, jadi nggak mungkin terkejar sama rekan-reekan wartawan disana.
    Memang sich, Anggodo masih belum menyandang status lagi selain sebagai saksi pelapor. Pas tim kuasa hukumnya yang berhasil dicegat wartawan, keliatannya sich dia gimana gitu, agak kurang sreg ngeliatnya. Jadi satu yang saya telat percaya, pengacara selalu membela kliennya, benar atau salah, mungkin...
    Nggak tau lah, biarin orang-orang disana pada repot ngurus itu. Aku ingin kuliah aja dah, biar cepet selesai. Sekarang aja tugasku udah numpuk nggak kebayang. Pusing mikir tugas ini itu, sempeti ngeblog and nulis. Tapi aku juga nggak tahu apa yah yang aku tulis ini.hehehehe. Oiya, doain aku ya bentar lagi UTS. Moga-moga aja ujianku lancar.. amien..
    Eits, ada yang kelupaan lagi nih. Tapi nggak ngerti harus di mulai dari mana ceritanya. Ijo barusan putus dengan pacar barunya. Aduh, aku mestinya seneng ato sedih yah??
    Tau ach,,pusing.. hehehee.. pak dokter, minta obat donk??
    kok aq gag jelas bgt!! emank nape!!!
    Numpang Narsis dikit yah..hohohohoho


    Lanjut Membaca......

    Minggu, 01 November 2009

    Susahnya Mencari Keikhlasan


    Aneh, kok blog ku akhir-akhir ini berubah jadi semacam curhat gitu yah? berhubung suasana masih mendung, ada yang ingin aku ceritain lagi nih. Mungkin kalian juga makin bosen jika berkunjung ke blog rastafara island ini, tapi ya mau gimana lagi. Saat ini ya cuma itu yang ingin aku tulis, masih belum kepikiran nulis apalagi...

    Semenjak kejadian itu, aku belum pernah lagi menulis. Nulis sekedar update status diberbagai rumah sosialku pun tidak. Bukan tidak sich sebenarnya, tapi jarang. Entah kenapa, seolah-olah aku kehilangan semangat dan nyawa dalam menulis. Mungkin inilah efek domino dari penyakit yang paling ditakuti oleh setiap manusia, PATAH HATI.
    Malam itu, aku mengungkapkan semua segala perasaan yang ada kepada ijo, walaupun sedari awal aku sudah tahu kenyataannya bahwa tak mungkin aku mendapat balasan perasaan yang sama. Tapi karena aku belum mengucapkan secara langsung kepadanya, maka aku berpikir, alangkah baiknya jika aku mengucapkan dan didengar langsung olehnya, biar hati ini bisa sedikit lega. Dari postinganku sebelumnya, tanda bendera putih telah aku kibarkan untuk mengejar ijo. Signal pengibaran bendera putih tersebut memang sudah diberikan dari pihak ijo, bahwa dia telah memiliki “sesuatu yang baru”. Tapi entah mengapa, aku belum lega jika tidak mengungkapkan isi hatiku secara langsung. Malam itupun terlaksana seperti rencana. Dengan terbata-bata dan sedikit meringis sedih, akhirnya aku dapat mengungkapkan sepenuh isi hatiku padanya, ijo. Saat itu, aku mendapat pertanyaan darinya, “terus mau kamu gimana tur?”. Dengan berusaha tersenyum aku pun menjawab, “ya mungkin seperti ini lebih baik kok, lagipula aku nggak berhak mendapatkan jawaban yang nanti ujung-ujungnya muncul kata terpaksa”. Aku tak boleh egois menghadapinya, dan saat ini yang bisa aku lakukan hanya memberi, ingin meminta rasanya tak berhak. Sesudahnya, semua berjalan masih seperti biasa pada awalnya, bersama teman-teman aku dapat dengan sedikit melewati perasaan yang kalau dirasakan sebetulnya amat pedih, sangat. Tapi jika aku dihadapkan pada kesendirian, kalian bisa tebak kan apa yang terjadi. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi aku juga nggak bisa mengeluarkan air mata sepenuhnya, apakah itu hal yang memang jadi ciriku, ataukah sesuatu yang musti aku munafikan, aku juga nggak tahu. Dan baru kali ini aku merasa sadar, bahwa sebenarnya hati ini belum lega dan ikhlas menerima kenyataan.
    Dengan mendadak, aku memutuskan untuk mencari sebuah arti kata ikhlas di kota yang amat aku sukai, Yogya. Modal yang aku bawa pas-pasan, yang penting cukup untuk transportasi kesana. Didalam perjalanan, dalam kereta, aku masih saja kebawa arus pikiran dan hati yang mellow, sesudah itu sedikitpun aku tak bisa lepas bayangan ijo yang muncul setiap saat dari kejauhan pikiran. Dibalik keramaian Jogja yang aku harapkan, bayangan pikiran itu sedikit demi sedikit luntur, walaupun hanya sementara, tapi tetap saja hadir meski tanpa undangan. Lari ke pantai, aku berusaha mengungkapkan apa saja yang berdesakkan ingin keluar dari dalam hati. Dengan berteriak sekeras-kerasnya, sedikit kuluangkan rongga-rongga hati ini. Aku juga ingin menangis disini, tapi tetap saja tak ada airmata yang ingin keluar, semua berdiam dan berkumpul di pojokan pelupuk mata. Hanya sembab saja yang muncul.
    Sudah tiga hari aku berada disini, jogya, tapi tetap saja nggak bisa menghabiskan sisa-sisa bayangan yang terus saja membuntuti pikiran serta hatiku. Sia-sia pikirku jika berlama-lama disini andai bayangan itu tetap ada. Satu kata yang tepat saat itu, Pulang. Kenangan yang kudapat di Jogja hanya satu, masih sulitnya mencari celah titik temu sebuah makna keikhlasan.
    Semua berjalan kembali, kegiatan akademis kembali aku lakoni seperti biasa. Ceria, tawa, diam, kadang ngakak tak karuan. Tapi ada yang tersikasa dibalik keceriaan semua itu. Hati ini rasanya masih terkunci rapat, senyum hatipun tak dapat. Apalagi, dalam kegiatan yang wajib aku lakukan selama 4 tahun ini, aku selalu ketemu dengan dia, sosok nyata bayangan yang telah mengikutiku. Sejak kejadian malam itu, aku berusaha bersikap wajar seperti biasa padanya. Mendekat tak mungkin, menjauhpun aku tak mau. Dari kejauhan imajinasi otakku, muncul suatu pernyataan bernada harapan, “andaikan aku dapat menerima kenyataan ini, ijinkanlah aku meraih arti ikhlas itu, singkirkan pikiran egoisku dan berikan aku sebuah kesadaran bahwa ternyata aku telah DI TOLAK”!.


    Lanjut Membaca......

    Cuap-Cuap

    TopKomeng