RASTAFARA ISLANDS

Tuesday, 18 June 2013

BBM (Benar-Benar Membingungkan)

Abdi DPR telah menyetujui usulan dari Abdi Dalem tentang RAPBN-P 2013. Dengan demikian, harga BBM (Benar-Benar Membingungkan) dipastikan akan naik. Serta, BLSM (Bantuan Langsung Sedikit Menyengsarakan) juga digolkan. Hasil tersebut didapat setelah para Abdi DPR melakukan rapat dan voting didalam gedung yang entah bentuknya mirip apa itu. Meski terjadi demo masak disana-sini, abdi dalem dan DPR tak bergeming untuk memuluskan RAPBN-P 2013. Pemicu dari dilakukannya perubahan anggaran rumah tangga negara ini adalah melonjaknya harga minyak dunia (kok kita ikutan repot sih?) serta terkoreksinya kurs mata uang sen. Dari voting yang dilakukan, 388 suara menyatakan mendukung usulan dari Abdi Dalem sementara 181 lainnya menolak. Diantara yang menolak tersebut berpandangan, tidak seharusnya para abdi menaikkan harga BBM bersubsidi dan menggantinya dengan BLSM. Pasalnya, pemberian bantuan tersebut hanya akan mengajarkan rakyat jelata semakin ingin disebut jelata. Juga, bantuan tersebut dinilai tidak tepat dan rawan penyalahgunaan. Ada baiknya, pemberian bantuan lebih dititik beratkan pada infrastruktur. Seperti bantuan kredit perumahan rakyat, atau bantuan kredit untuk pelaku usaha kecil (UKM). Ironis memang. Namun, kita sebagai jelata hanya bisa manggut-manggut karena tidak bisa memahami kemana dan mau dibagaimanakan BBM ini. Apabila memang jadi naik dalam waktu dekat, justru akan memberatkan. Apalagi, saat ini adalah musim pergantian ajaran baru. Yang mana, banyak jelata yang ramai-ramai memadatkan pegadaian hanya ingin melihat anaknya sekolah. Belum lagi, momen bulan Ramadhan yang akan segera tiba. Wow, bagaimana ini? Namun, sebagian besar jelata lain juga mendukung kebijakan naiknya BBM. Pasalnya, mereka juga sakit hati kalau BBM yang katanya disubsidi itu turut dinikmati mobil-mobil mewah, apalagi plat merah.

Baca Selanjutnya

Saturday, 15 June 2013

Ciluk Ba..

Horeeee... akhirnya aku updet lagi. Udah setahun lebih absen di dunia blogger. Ehm, nulis apa yah?
Saya sih pingginnya nulis mengenai perkembangan sepakbola, terutama sepak bola di Indonesia, perihal penyatuan liga (Indonesia Super League dan Indonesia Premier League) musim 2014 mendatang. Namun yang paling terus mendapat perhatian adalah mengenai perkembangan skuad dan prestasi Timnas Indonesia, baik level junior maupun senior. Terakhir, Timnas Indonesia senior melawan Timnas Belanda pada laga uji coba di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (07/06). Dalam laga itu, skuad Garuda dipaksa menyerah 0-3 berkat dua gol dari Siem De Jong dan sebiji gol dari Arjen Robben. Di balik kekalahan tersebut, terdapat beberapa pelajaran yang didapat Indonesia dari Belanda. Salah satunya adalah bagaimana untuk mempertahankan fisik di lapangan. Di babak pertama, Indonesia mampu menahan imbang Belanda tanpa gol. Hal itu menjadi bukti bahwa permainan Garuda juga mulai semakin berkembang. Namun ketimpangan terjadi di babak kedua. Tim asuhan Jacksen F Tiago tampak mulai loyo dan kehilangan stamina untuk mengawal Robin van Persie dkk. Akibatnya, tiga gol berhasil disarangkan pemain Belanda ke gawang Indonesia kawalan Kurnia Meiga Hermansyah. Kini, PSSI sebagai induk organisasi sepak bola tanah air harus lebih mementingkan bagaimana cara untuk memperbaiki kualitas timnas agar prestasi ke depannya semakin lebih baik. Salam satu jiwa

Baca Selanjutnya

Tuesday, 3 January 2012

Adakah HAM untuknya?

Kekerasan yang melibatkan antara masyarakat dengan aparat sudah beberapa kali terjadi. Dan fatalnya bentrokan kedua kubu tersebut seringkali meninggalkan korban jiwa. Korban tewas bukan hanya datang dari warga sipil, aparat pun terkadang juga terkena imbasnya.

Masih ingat di benak kita, di bulan-bulan penutup tahun 2011 lalu, dua tindak kekerasan pecah di dua wilayah di Sumatera, yaitu kabupaten Mesuji, Lampung serta Kecamatan Mesuji Kab. Ogan Komering Ilir. Di dua wilayah tersebut tentu “menghadirkan” korban tewas. 7 warga tewas di Kecamatan Mesuji dan 1 tewas di Kab. Mesuji. Tidak hanya dua wilayah Mesuji itu, di Bima, NTB, bentrokan terjadi antara polisi dan warga yang memblokade pelabuhan, 2 warga sipil tewas (versi kepolisian), 3 tewas versi Komnas HAM. Dalam kasus-kasus tersebut, sebenarnya bukan hanya pihak warga dan aparat yang paling berperan. Semestinya peran dari Perusahaan yang memicu aksi tersebut layaknya untuk*di telusuri.
Dari yang saya lihat, selalu saja efek dari kekerasan itu yang sering (tidak selalu) di bahas di banyak forum. Tentu saja pihak aparatlah yang selalu tersudutkan. Terlebih bila HAM (Hak Asasi Manusia) yang berbicara. Mulai dari korban tewas di pihak siapa, korban tewas terkena apa, serta pelanggaran apa yang sekiranya dilakukan oleh pihak aparat. Lagi-lagi aparat selalu diposisi tersudut dalam hal ini.

Dari beberapa korban jiwa, banyak diantaranya yang disebabkan oleh peluru dari aparat. Entah peluru tersebut nyasar atau memang sengaja diarahkan ke massa. Lalu mengapa peluru-peluru tajam sampai mengenai massa? Apa yang mendasari aparat melakukan “pelepasan” peluru? Rasa tanggung jawab tadi yang menurutku perlu dipertanyakan. Apabila bentrok pecah dan mengakibatkan korban jiwa, yang pertama dilihat banyak kalangan tentu saja pelanggaran yang dilakukan oleh aparat . warga sipil selalu di posisi aman. Mengapa bisa seperti ini? Tentu tak lepas dari peran serta fasilitas yang dimiliki. Tugas untuk mengayomi dan melayani masyarakat dinilai kurang atau tidak berhasil, dan banyak yang menialai, aparat dalam menggunakan senjata kadangkala “membabi buta”.

Memang, pada dasarnya aparat adalah petugas yang mengabdi untuk negara serta mengayomi dan melayani masyarakat (kepolisian), menjaga dan mempertahankan wilayah NKRI (TNI). Dalam melakukan tugas yang diamanahkan negara, aparat selalu di persenjatai meskipun tidak semua aparat memegang senjata. Senjata untuk aparat memang perlu dan penting karena tugasnya sebagai perisai serta proteksi negara beserta warganya. Untuk memperoleh sertifikat memegang senjata api, tentu bukan hal yang mudah. Begitu banyak tes yang dilalui, mulai dari tes Psikologi, tes kesehatan dan berbagai tes-tes lain. Jika sudah memperoleh haknya untuk memegang senjata, tentulah harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Dengan adanya korban tewas, kemudian muncul ke permukaan istilah yang ramai di perbincangkan, yaitu kesalahan protap yang dilakukan oleh aparat. Lalu apakah itu PROTAP? Protap adalah singkatan dari prosedur tetap yaitu Aparat dapat melumpuhkan pelaku tindakan anarki dengan menggunakan senjata api. Anarki disini berarti tindakan yang dilakukan dengan sengaja atau terang-terangan oleh seseorang atau kelompok orang yang bertentangan dengan norma hukum yang mengakibatkan kekacauan, membahayakan keamanan umum, mengancam keselamatan jiwa dan atau barang, kerusakan fasilitas umum, atau hak milik orang lain. Sebelum melakukan tindakan atas protap, pihak aparat tentunya memiliki berbagai opsi, misalnya melalui negoisasi. Opsi inilah yang semestinya digunakan dengan sebaik-baiknya oleh kedua pihak yang bersitegang.

Kata anarki yang diatas berarti tindakan yang melanggar norma hukum dan mengancam keamanan umum. Dalam Protap Kepala Keoplisian Negara Republik Indonesia nomor:Protap/1/2010 disebutkan beberapa sifat anarki diantaranya ;
a. agresif;
b. spontan;
c. sporadis;
d. sadis;
e. menimbulkan ketakutan;
f. brutal;
g. berdampak luas; dan
h. pada umumnya dilakukan secara massal.
Dari beberapa sifat tersebut, hal yang patut untuk dipertanyakan adalah apa penyebab dari anarki? Banyak sekali mungkin jawabannya. Namun saya menemukan satu jawaban yang kebanyakan hal inilah penyebabnya. Ketidakpuasan.
Ham, hak asasi manusia lah yang selalu berbicara untuk memvonis para aparat. Tentu, aparat tahu benar dan wajib bertanggung jawab penuh terhadap adanya korban tewas. Dan warga sipil hanyalah warga tak bersenjata (api) yang menyatakan ketidakpuasannya kepada pihak-pihak tertentu.
Di malam tahun baru kemarin, tugas polisi sangatlah berat yaitu mengamankan situasi dan kondisi di malam pergantian tahun. Di blitar diberitakan, seorang polisi tewas tertusuk saat menjalankan tugasnya mengamankan malam tahun baru. Dilihat dari luka tusukannya, jelas ini merupakan suatu sifat anarki yang sadis,sporadis,brutal, yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal. Jelas situasi ini berbalik dengan situasi sengketa beberapa waktu lalu. Sekarang polisi yang gantian diserang. Dan disini apakah ada pelanggaran HAM?


Baca Selanjutnya

Wednesday, 21 December 2011

Hantu

Aku sih sebenarnya bingung mau nulis apa, buntu ini otak dan tangan. Tapi aku heran sama sosok yang satu ini. Sebelah mata memandang lucu, sebelahnya lagi mandang kalau serem. Siapa lagi kalau bukan hantu.

Udah pada tau kan kalau akhir-akhir ini heboh sama Kepo (ketemu pocong), itu pocong yang sumpah lucu banget, bukan menurutku. Pocong dibuat guyonan dengan berbagai macam, mulai dari latihan lari sambil loncat, nongkrong sama bencong-bencong, salaman, dan entah macam mana lagi.
Sementara, pocong yang satunya dibuat gak logis banget. Seperti yang pernah diungkap si raditya dika dalam stand up nya, dunia perhantuan saat ini gak wajar. Ada kuntilanak kesurupan lah, tali pocong perawanlah, pocong versus kuntilanak lah, dan lainnya yang aneh-aneh. Sepertinya udah saatnya ada lembaga perhantuan yang mengatur semua ini. Kalau hantu-hantu ini dibuat lucu, bagaimana ya perasaannya ketika mereka tau kalau di dunia nyata mereka di guyonkan? Dan apakah mereka punya perasaan?
Memang sih, yang aku lihat dari semua ini adalah suatu proses harapan dimana kita jangan takut sama yang namanya hantu. Atau bahkan berusaha menghilangkan hantu di benak kita melalui adegan-adegan seperti itu tadi.
Tapi ada lagi acara yang dulu sempat heboh, dimana sosok setan atau hantu ini dicari-cari dengan memasang seseorang di tempat yang sepi dengan aksesoris kamera di sekelilingnya. Di acara itu sih kebanyakan rupa-rupa hantu yang aneh-aneh, mulai dari asap yang keluar, barang-barang yang jatuh sendiri, suara-suara aneh dan sebagainya. Disitu terlihat bahwa acara itu berusaha mengungkapkan adanya sosok hantu disuatu tempat. Dan menurutku semua itu failed. Karena sampai saat ini aku belum menemukan kepuasan.
Ada yang di beberapa acara yang menampilkan acara kesurupan. Tiap acara selalu dihiasi dengan kesurupan. Konon tubuh seseorang itu dirasuki oleh roh-roh halus yang mengaku sebagai penunggunya atau palah namanya. Jalan sedikit kesurupan, malakukan apa sedikit kesurupan, serba kesurupan dah. Tentang kesurupan ini, aku pernah ikut dalam suatu kesenian yang biasanya diharuskan untuk kesurupan. Sebelum malakukannya aku seperti dijampi-jampi dan kemudian diberi kemenyan yang ekstra. Hasilnya aku kesurupan. Tapi bukan kesurupan oleh roh-roh halus tadi, melainkan pusing yang gak ketulungan karena kelakuan si kemenyan tadi. Baunya itu sumpah, bikin enek.
Dari hantu yang lucu sampai yang dicari-cari tadi muncul sejumlah pekerjaan baru selain dukun dan para normal, tapi aku juga lupa-lupa ingat sih nama pekerjaan itu, parapsyiko atau apa ya itu namanya. Mungkin kalau dukun kita nggak tau asal muasalnya tapi kan jelas keberadaanya jaman dulu sebelum ada teknologi yang canggih. Aku mau bertanya disini, parapsiko atau apalah namanya tadi tersebut sekolah dimana ya? Jika pekerjaan seperti itu semakin pesat, bukan tidak mungkin pekerjaan lama macam dukun akan tergusur. Kalau mereka tergusur, apa kelanjutan pekerjaan mereka ya?
Memang aku dalam agama kurang begitu taat meskipun sedikit banyak memahami. Tapi yang aku tahu, Tuhan menciptakan dua dunia, satu dunia nyata seperti kita, dan satunya dunia yang tidak dapat kita lihat secara kasat mata. Dan menurutku percayalah itu, karena hal itu bisa menguatkan iman kita. Tidak harus takut, tapi percayalah. Itu saja. Maka berakirlah ocehan ku yang gak jelas ini.

Salam Satu Jiwa.

Baca Selanjutnya

Saturday, 12 November 2011

Kabur atau Merah

Sore yang dingin, suasana yang hening dan membosankan, membuat gerah untuk tinggal di kamar kontrakan yang kumuh ini. Lihat leptop berusaha merajut lagi kata demi kata untuk sebuah skripsi, namun hanya bisa melihat layar leptop dan tidak terlintas satupun untuk diketik. Belum lagi setiap habis isya’, si pemilik kontrakan ketuk-ketuk pintu menagih uang kontrakan yang udah mulai nunggak. Lengkap sudah.


Keluar. Itu keputusanku untuk melarikan diri. Namun kemana juga gak tahu. Doompet hanya berisi beberapa lembar “Om Pattimura” yang gagah dengan pedangnya. “Ah, mana cukup untuk buat beli bensin”,gumamku. Celana army, kaos bergambar “powerpuff girl”, sepatu skate kumel, Tas made in dewe, segera kurekatkan di badan. Tolong jangan dibayangkan, betapa indahnya busana yang aku pake di sore itu. Ponsel kutanggalkan di atas kasur dengan harapan tak seorangpun mengganggu virus ke “Galau”an ini.
Aku ingin mendengar suara bising knalpot serta riuhnya klakson. Uh...betapa asik ketika suara itu membingungkan masuk di telingaku. Langkah demi langkah akhirnya sampai juga di sebuah pertigaan. Dan aku menemukan sebuah tempat yang sepertinya cocok untuk memantau wajah-wajah manusia. Di bawah lampu rambu lalin (lalu lintas). Dalam ilmu komunikasi, jurusan yang aku ambil, warna-warna di lampu itu, merah untuk berhenti, kuning untuk waspada, dan hijau bermakna jalan, merupakan komunikasi nonverbal yaitu proses komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal yaitu bahasa isyarat, bahasa tubuh, simbol, emosi wajah, gaya bicara, intonasi, pokoknya selain kata-kata. “Koplak, kenapa dibawah rambu ini aku masih sempet kuliah”. Namun mohon diingat, warna merah kuning hijau tadi bukanlah simbol dari reggae kesukaanku, tapi simbol dimana kapan kita berhenti, waspada, jalan. Ketiga kata terkhir mohon di INGAT BAIK-BAIK!!!!!
Aku diam disitu. Ketika lampu merah menyala, mataku juga ikut menyala mengamati wajah orang-orang. Ada yang ekspresinya hanya diam sambil “ngemut” permen karet, ngobrol dengan teman yang dibonceng, matanya kerlap-kerlip menggoda pengemudi sebelahnya, dan yang paling jarang aku lihat, bertengkar dengan pacar diatas motor. Dua sejoli itu terlihat uring-uring saling memincingkan bibir. Samar ku dengar beberapa kata umpatan terlontar. Tak lama kemudian. Si wanita turun dari boncengannya, lalu membanting helm dan lari ke tepi jalan berhentilah sebuah mikrolet. Sementara itu si cowok menyingkirkan helm dan motor ke tepi. Tak berapa jauh, mikrolet yang dinaiki wanita tadi berhenti. Turunlah wanita itu dengan muka yang,ehmm, “cantik juga kalau wanita marah”. Di hampirilah si cowok yang sibuk dengan helm dan motornya . “minta uang”.

Satu-dua jam aku masih disitu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Namun aku masih asik menikmati. “hoe Tur, ngapain kamu disitu?”, ternyata sapaan wahono,si penjual maicih. “ngamen”, jawab singkat saja. Lampu merah kembali menyala. Ada satu motor yang nekat nerobos. Padahal, baru beberapa jam yang lalu aku memberi tahu bahwa warna merah adalah tanda untuk BERHENTI. Braaaakkkkk...tidak keras, kira-kira bunyinya seperti itu. Turunlah pengemudi masing-masing dari motornya. Setelah cekcok sambil “cak-cok”, entah mana yang mulai duluan namun pada akhirnya berujung adu jotos. Terlintas pikiran untuk melerai. “Ah, ngapain juga dipisah, biar aja adu jotos, toh orang goblok yang tidak paham warna”. Yang ini jangan ditiru, baik pikiran saya atau si adu jotos.

Kalau tahu ending begini, apanya yang cantik di 11-11-2011????

Salam Satu Jiwa

Baca Selanjutnya

Embah

My Blog List

  © Music RASTA code by ourblogtemplates.com n edited byhaqieART @2009

Back to TOP